You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Asempapak
Desa Asempapak

Kec. Sidayu, Kab. Gresik, Provinsi Jawa Timur

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PEMERINTAH DESA ASEMPAPAK KEC.SIDAYU. KAB. GRESIK

Mendorong Desa Ramah Lingkungan: Inovasi Bank Sampah Digital dan Pengomposan Menggunakan Metode Biopori oleh KKN UISI di Desa Asempapak

MUHAMMAD DLIYA UDDIN 27 Juli 2025 Dibaca 51 Kali
Mendorong Desa Ramah Lingkungan: Inovasi Bank Sampah Digital dan Pengomposan Menggunakan Metode Biopori oleh KKN UISI di Desa Asempapak

Mahasiswa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) dari Kelompok KKN 4 menghadirkan program berbasis lingkungan yang inovatif di Desa Asempapak, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Program ini menggabungkan teknologi digital dengan pengelolaan sampah berkelanjutan melalui penerapan bank sampah digital untuk sampah anorganik dan pengomposan sampah organik menggunakan media lubang biopori.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi desa yang memiliki potensi tinggi dalam pelestarian lingkungan, namun belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang tertata dan berkelanjutan. Banyak warga masih mencampur sampah organik dan anorganik dalam satu tempat, membuangnya langsung, atau membakarnya sehingga mencemari udara dan membahayakan kesehatan.

Konsep bank sampah memungkinkan warga menabung sampah anorganik dan memperoleh nilai ekonomis. Namun di Desa Asempapak, pencatatan transaksi masih dilakukan secara manual dan keterlibatan warga belum maksimal.

Melihat hal ini, mahasiswa KKN UISI Kelompok 4 berinisiatif membuat sistem pencatatan digital berbasis spreadsheet dan dashboard sederhana. Sistem ini membantu pengelola mencatat jenis, berat, dan nilai tukar sampah dari setiap warga, serta memudahkan pelaporan bulanan secara otomatis. Warga dapat memantau saldo tabungan sampah mereka melalui papan informasi atau grup WhatsApp.

 

Jenis sampah yang dapat disetorkan antara lain:

* Plastik: botol air mineral, kemasan sachet, kantong kresek

* Kertas: koran, kardus, buku bekas

* Logam: kaleng, besi ringan, aluminium

 

Setiap jenis sampah dinilai berdasarkan harga per kilogram dan dikonversi menjadi poin. Poin ini dapat ditukar dengan uang tunai, sembako, atau kebutuhan rumah tangga sesuai kesepakatan. Dengan sistem ini, warga diharapkan lebih semangat memilah dan menabung sampah karena pencatatan lebih transparan, tertib, dan mudah dipantau.

Selain bank sampah digital, KKN UISI juga memperkenalkan metode pengomposan sampah organik rumah tangga dengan media lubang biopori. Lubang biopori adalah lubang vertikal di tanah sedalam sekitar 100 cm yang berfungsi sebagai tempat resapan air sekaligus media pengomposan alami.

Mahasiswa bersama warga membuat titik-titik biopori di halaman rumah, sekolah, dan sekitar balai desa. Warga diajarkan untuk memasukkan sampah organik seperti sisa makanan, daun, kulit buah, dan sayuran ke dalam lubang. Proses pembusukan alami di dalam tanah akan menghasilkan kompos dalam waktu 4–8 minggu.

 

Manfaat dari metode ini tidak hanya mengurangi volume sampah organik, tetapi juga:

* Menyuburkan tanah secara alami

* Mengurangi genangan air dan mempercepat resapan hujan

* Menekan emisi gas dari pembakaran sampah

 

Keberhasilan program ini tidak lepas dari pendekatan edukatif. KKN UISI Kelompok 4 rutin mengadakan sosialisasi dan praktik langsung bersama warga, mulai dari pemilahan sampah, cara menyetorkan ke bank sampah, hingga pelatihan membuat dan merawat lubang biopori. Edukasi juga menyasar anak-anak melalui program Les Malam Tematik dengan tema lingkungan, permainan edukatif, dan tantangan memori terkait jenis-jenis sampah—menanamkan kesadaran sejak dini.

Warga menyambut program ini dengan antusias. Ibu rumah tangga mulai rajin memilah sampah, dan pengurus RT mulai mengagendakan bank sampah digital sebagai program bulanan. “Dulu kami buang semua sampah jadi satu, tapi sekarang jadi tahu mana yang bisa dijual, mana yang bisa jadi pupuk. Anak-anak juga senang karena ikut belajar,” — Ibu Siti, warga Asempapak. Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi mahasiswa dan masyarakat bisa menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan. Kader lingkungan dari warga telah dipersiapkan agar program terus berjalan meski KKN telah usai.

KKN UISI Kelompok 4 berharap program ini terus dilanjutkan oleh masyarakat dan didukung pemerintah desa. Bahkan, ada potensi pengembangan menjadi unit usaha mikro berbasis lingkungan seperti penjualan kompos atau kerajinan dari sampah anorganik. Dengan langkah kecil yang konsisten, Desa Asempapak bergerak menuju desa yang bersih, sehat, dan mandiri secara lingkungan.